Entri Populer

Kamis, 27 Maret 2014

Monolog pada Hari di Akhir Bulan Ini

jika ingin menggunakan ini sebagai salah satu sumber referensi, mohon untuk menyertakan alamat URL-nya atau gunakan aturan pengutipan yang baik :) hindari plagiarisme, karena kreatif itu indah :) terimakasih :)


Aku menatap segelas lemon squash yang gelas plastiknya mulai mengembun. Bintik bintik air kecil yang merembes itu, terasa dingin membekukanku. Namun aku masih pula merasa gerah, padahal hawa tak jua panas. Hanya debu sedikit beterbangan, dan angin sedikit dingin.
Matahari saja enggan bersua, masih malu atas mimpi semalam. Lalu apa yang membuat bara ini menyala? Bahkan aku tak menyukut apapun, hanya saja hatiku terbakar.

Aku sedikit berharap, ada sebuah bercak nada yang membuatku segar, 
Aku kembali menatap segelas lemon squash

Aku berharap bisa melompat dari ketinggian,

biar kurasa sensasi kupu-kupu di perutku tiap tatap dan ngiangmu, menghantu biru, lalu ungu.
Adakah kelabu? Bahkan ini tak sekedar hitam atau kelabu, mending aku bersembunyi di balik selimut menutup kelambu!!
Aku menatap segelas lemon squash yang gelas plastiknya mulai mengembun. Bintik bintik air kecil yang merembes itu, terasa dingin membekukanku. Namun aku masih pula merasa gerah, padahal hawa tak jua panas. Hanya debu sedikit beterbangan, dan angin sedikit dingin.
Matahari saja enggan bersua, masih malu atas mimpi semalam. Lalu apa yang membuat bara ini menyala? Bahkan aku tak menyukut apapun, hanya saja hatiku terbakar.

Aku sedikit berharap, ada sebuah bercak nada yang membuatku segar, 
Aku kembali menatap segelas lemon squash

Aku berharap bisa melompat dari ketinggian,

biar kurasa sensasi kupu-kupu di perutku tiap tatap dan ngiangmu, menghantu biru, lalu ungu.
Adakah kelabu? Bahkan ini tak sekedar hitam atau kelabu, mending aku bersembunyi di balik selimut menutup kelambu!!
                                                                              .


Selasa, 04 Maret 2014

Analisis Cerpen Kucing Karya Putu Wijaya

jika ingin menggunakan ini sebagai salah satu sumber referensi, mohon untuk menyertakan alamat URL-nya atau gunakan aturan pengutipan yang baik :) hindari plagiarisme, karena kreatif itu indah :) terimakasih :)

berhubung masih belajar, maaf kalo masih kurang sana-sini, kritik yang membangun (menunjukkan letak kesalahan/kekurangan dengan memberikan solusi) sangat saya harapkan untuk pembuatan tulisan maupun tugas dengan lebik baik lagi :)



ANALISIS CERPEN “AIDS” KARYA PUTU WIJAYA
MELALUI PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Kajian Sastra


 

DISUSUN OLEH:
DWI ARI WAHYUNI
PBSI K 2013
NIM: 13201241026


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013/2014






ANALISIS CERPEN “AIDS” KARYA PUTU WIJAYA
MELALUI PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
Pendekatan sosiologinsastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetic yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek social kemasyarakatan. Oleh Wellek dan Warren (1990) diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu sosiologi pengarang, sosiologi karya dan sosiologi pembaca dan dampak social karya sastra.
Melalui sosiologi pengarang  yang ditelaah dari latar belakang osial, status social dan ideology pengarang, cerpen Putu Wijaya, AIDS begitu lugas, mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan ekspresif bahasanya. Ia lebih mementingkan perenungan ketimbang riwayat, seperti dalam pidato Ami yang mencoba merenungkan bagaimana krisis moralitas dalam kehidupan politik, begitu sederhana dengan penyakit AIDS sebagai pembandingnya.
Sekarang yang paling berbahaya, yang nomor satu ditakuti, yang paling mengancam kita, bukan lagi HIV, bukan lagi AIDS, bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi.
Cara Ami berbicara dengan pintar dan berwawasan seperti wujud sosok Putu Wijaya sebagai seorang pemain teater. selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi). Ia mendapat beasiswa belajar drama (Kabuki) di Jepang (1973) selama satu tahun. Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1974, ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat.
Nampak sekali dari sepak terjang pendidikannya beliau memiliki wawasan yang begitu luas, perhatian pada hukum Indonesia, sesuai dengan jurusan yang diambil semasa kuliah. Sebelumnya beliau sendiri kuliah di dua tiga tempat, juga latar belakang keluarga ayahnya yang mendidik dengan keras terlihat jelas dalam diri Ami yang juga keras cenderung berapi-api. Seperti yang dikutip di bawah ini, Bali sebagai asal tempat tinggalnya juga memiliki andil dalam penulisan cerpennya. Apalagi Bali sebagai tempat dengan budaya yang masih kental, tak heran jika Putu Wijaya membahas kemerosotan moral dalam politik. Berbeda dengan tempat dan lingkungan tinggalnya di Yogyakarta serta Jakarta.
AIDS sudah dianggap enteng, yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan, karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini, kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?”
Dalam sosiologi karya, ditilik dari tujuan Putu Wijaya menulis cerpen ini selain memperingatkan bahaya penyakit AIDS pada masyarakat juga memperingatkan bahayanya krisis moralitas di dunia politik pemerintahan Indonesia.
Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan, juga kehilangan kesejahteraan. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. Tanpa kedudukan, orang akan bangkrut dan mati.
Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Moral kita sudah jatuh.
Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan, karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal, tetapi tetapi seluruh bangsa, 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. Terimakasih!”
Kembali pada realita masyarakat sekarang. Berbicara tentang moralitas, moral adalah ajaran atau pedoman yang dijadikan landasan untuk bertingkah laku dalam kehidupan agar menjadi manusia yang baik dan beraklak mulia. Akan tetapi saat ini bangsa Indonesia tengah mengalami gejolak sehubungan dengan kemerosotan moral dari generasi muda Indonesia. Perkembangan informasi dan teknologi yang begitu cepat dan dengan mudah diakses baik melalui jaringan internet atau media cetak. Sehingga setiap waktu kejahatan akan terlihat secara kasat mata maupun tersembunyi.
Coba kita lihat banyak anak putus sekolah, perkosaan dimana-mana, Guru memperkosa anak didik, orang tua memperkosa anak kandung, dan semuanya memberika dampak kepada masyarakat. Banyak masyarakat yang kemudian tersulut dan menjadi tak terkendali, kemudian mereka melakukan hokum mereka, menghakimi. Atau beban mental psikologis korban yang membekas dan menyisakan trauma tersendiri. Tindak anarkhis bahkan juga pada kalangan mahasiswa yang terwujud dalam demo-demo yang kurang terarah, yang terkadang justru mengganggu ketenangan dan kepentingan masyarakat yang lain.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar menegaskan lagi tidak boleh ada diskriminasi dalam dunia kerja terhadap para pengidap HIV/AIDS. Dan Putu Wijaya menggambarkan hal ini ppada cerpernnya.

Dulu siapa yang mengidap AIDS, akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan dengan masyarakat. Sekarang malah diundang berceramah, agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya, kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Ibu-ibu tahu apa itu?”
Hal itu memang benar, HIV/AIDS hanya menular melalui pertukaran darah, atau penggunaan jarum suntik bergantian, juga keturunan kepada bayi dari ibunya. Tidak aka nada penularan dalam hal kontak fisik. Berbeda dengan keadaan dulu, orang dengan HIV/AIDS atau ODHA akan dikucilkan masyarakat, tidak bisa bersosialisasi, dan terkadang orang terdekat pun menjauhi. Namun setelah banyak orang pintar dan menyebarnya ilmu pengetahuan, masyarakat mendapatkan pemahaman baru, hingga ODHA sendiri sekarang banyak memiliki komunitas maupun lembaga organisasi bahkan paying hokum dalam perlindungannya. Berdasarkan Permenakertrans No.20/2012 tanggal 19 November 2012 yang merupakan Pelaksanaan dari PP 53/2012 tentang Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, ditegaskan bahwa penderita HIV/AIDS berhak mendapatkan jaminan layanan kesehatan hingga sebesar Rp20 juta pertahun melalui PT Jamsostek sebagai Badan Penyelenggara.
Berdasarkan laporan hasil investigasi sebuah lembaga survei dinyatakan bahwa korupsi menyebar merata di wilayah negara ini, dari Aceh hingga Papua. Karena itu dari tahun ke tahun posisi Indonesia sebagai negara terkorup selalu menduduki peringkat 10 besar dunia dalam indeks persepsi korupsi (CPI) menurut data dari Transperenscy International. Partnership for Governance Reform pada 2002  menempatkan lembaga peradilan di Indonesia menempati peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002, bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi.Hal ini tersirat maupun tersurat tergambar jelas pada cerpen Putu Wijaya, ia mengamanatkan bahaya ketidakjujuran dalam lapisan pemerintahan Indonesia yang mengancam keberadaan Pancasila.
“Karena nyatanya memang begitu! HIV, AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter, tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu, tidak peduli kepada kemanusiaan, seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya, adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!”
Ini merupakan cermin bahwa telah terjadi penurunan moral tanggung jawab di masyarakat yang dapat berakibat fatal bagi keselamatan masyarakat. Jika hal itu dibiarkan, akan mengancam masa depan bangsa. Namun sayang, masalah moral ini kerap terpinggirkan dari agenda dan rencana para calon pemimpin bangsa.

SUMBER REFERENSI:



Wiyatmi. 2005. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.